Relief Balekambang Mantingan - Tatah.id
Ada karya yang membuat kita seolah memasuki ruang hening di tengah lanskap masa lalu. Relief Balekambang Mantingan karya Wafi menghadirkan suasana balai peristirahatan di atas taman air, dikelilingi tumbuhan, awan, matahari, dan ragam ornamen yang tersusun rapat. Pada panel ini, kayu jati tidak hanya menjadi bidang pahatan, tetapi berubah menjadi lanskap yang memadukan arsitektur, alam, spiritualitas, dan ingatan visual Mantingan.
Karya ini dibuat pada tahun 2026 menggunakan material kayu jati dengan ukuran 70 x 115 x 5 cm. Relief Balekambang Mantingan menjadi salah satu karya Wafi yang akan dipamerkan di Museum Nasional Indonesia Jakarta dalam Pameran TATAH 2026 yang berlangsung mulai 29 April hingga 5 Juli 2026.
Karya ini merupakan reproduksi panel yang terinspirasi dari ornamen relief yang terdapat di Masjid Mantingan, salah satu tinggalan penting dalam sejarah seni ukir Jepara yang dibuat pada tahun 1559 M. Sebagai karya reproduksi, panel ini tidak hanya menghadirkan kembali bentuk visual dari masa lalu, tetapi juga membuka ruang pembacaan terhadap cara masyarakat Jepara dahulu membangun bahasa rupa melalui simbol, lanskap, dan ornamen.
Secara visual, relief ini menampilkan bangunan atau balai yang berada di tengah komposisi. Bentuk bangunan tersebut menyerupai tempat peristirahatan yang terlindung, dengan atap, tiang, dan susunan arsitektural yang dipahat detail. Kehadirannya menjadi pusat perhatian, seolah seluruh unsur alam di sekitarnya bergerak mengarah ke bangunan tersebut. Dari sini, balekambang dapat dibaca sebagai ruang tenang, tempat manusia menarik diri dari keramaian, beristirahat, atau menjalani laku batin.
Di sekitar bangunan, hadir unsur lanskap yang kaya. Ada pepohonan, sulur, bunga teratai, awan, serta matahari yang tampak menyembul di antara susunan ornamen. Seluruh unsur itu tidak disusun secara kosong, tetapi saling mengisi dan saling menguatkan. Tumbuhan menjalar, awan berputar, dan bentuk arsitektur berdiri sebagai pusat keseimbangan. Karya ini seperti mengajak kita melihat sebuah pemandangan yang bukan hanya indah, tetapi juga memiliki suasana batin.
Salah satu unsur penting dalam relief ini adalah kehadiran jaladwara, yaitu elemen yang berkaitan dengan aliran air. Dalam karya ini, jaladwara memberi petunjuk bahwa balekambang tidak berdiri di ruang kering, melainkan berada dalam hubungan dengan taman air. Air menjadi bagian dari suasana yang dibayangkan, meskipun tidak selalu dihadirkan secara harfiah. Melalui jaladwara, kita dapat merasakan adanya aliran, kesegaran, dan ketenangan yang menyertai bangunan tersebut.
Bunga teratai juga menjadi elemen yang penting. Teratai dalam banyak tradisi sering dikaitkan dengan kesucian, pemurnian, dan ketenangan batin. Ketika hadir bersama balekambang, teratai memperkuat kesan bahwa ruang ini bukan sekadar tempat bernaung, tetapi juga ruang kontemplasi. Ia dapat dibaca sebagai tempat manusia menjaga jarak dari hiruk pikuk dunia, lalu mendekat pada suasana yang lebih jernih dan tenang.
Detail ukiran pada panel ini memperlihatkan keterampilan tinggi dalam membangun kedalaman visual. Bidang kayu yang tipis diolah menjadi ruang yang tampak berlapis. Ada bagian yang menonjol, ada bagian yang cekung, ada rongga dan bayangan yang membangun kesan tiga dimensi. Dari teknik seperti ini, relief tidak terasa datar, melainkan seperti panggung kecil yang menyimpan cerita tentang alam, arsitektur, dan kehidupan.
Ornamen awan yang memenuhi sebagian bidang memberi kesan gerak dan suasana. Bentuknya berputar, melengkung, dan menyambung dengan unsur lain. Awan tidak hanya menjadi latar, tetapi menjadi bagian dari irama keseluruhan karya. Sementara matahari yang tampak kecil memberi tanda tentang cahaya, waktu, dan kehidupan. Kehadirannya membuat lanskap terasa lebih hidup, seolah panel ini merekam momen tertentu dalam suasana alam Mantingan.
Kekuatan panel ini terletak pada perpaduan antara unsur lokal, spiritual, dan dekoratif. Unsur lokal hadir melalui lanskap, vegetasi, bentuk bangunan, dan ingatan terhadap lingkungan Jepara. Unsur spiritual terasa melalui suasana hening, balekambang sebagai ruang peristirahatan atau samadi, teratai, air, dan komposisi yang mengarah pada ketenangan. Unsur dekoratif hadir melalui kepadatan ornamen, sulur, awan, dan detail pahatan yang mengisi bidang dengan ritme yang kuat.
Karya ini juga membuka pertanyaan menarik. Mungkinkah relief ini merupakan penggambaran suasana Masjid Mantingan pada masa lalu. Pertanyaan itu membuat panel ini semakin penting untuk dibaca. Jika benar ia merekam lanskap Mantingan, maka panel ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga sebagai jejak visual tentang bagaimana sebuah tempat dipahami dan dibayangkan pada zamannya. Jika bukan gambaran langsung, karya ini tetap memperlihatkan bagaimana imajinasi tentang ruang suci, taman, air, dan alam bertemu dalam satu susunan ornamen.
Sebagai reproduksi dari inspirasi relief Mantingan, karya ini menunjukkan bahwa warisan tahun 1559 M masih memiliki daya hidup. Ornamen Mantingan tidak berhenti sebagai peninggalan sejarah, tetapi terus memberi bahan bagi seniman dan pengukir masa kini untuk menafsirkan ulang bentuk, suasana, dan nilai yang terkandung di dalamnya. Wafi menghadirkan kembali spirit itu melalui kayu jati, dengan menjaga kekayaan detail sekaligus membuka ruang pembacaan baru.
Relief Balekambang Mantingan mengajak kita melihat bahwa ukiran Jepara tidak hanya berbicara tentang keindahan pola, tetapi juga tentang cara sebuah masyarakat memahami ruang. Di dalamnya ada bangunan, air, teratai, pepohonan, awan, matahari, dan kemungkinan ingatan tentang Mantingan. Semua unsur itu menyatu dalam satu panel yang padat namun tenang. Dari karya ini, kita dapat membaca Jepara sebagai ruang budaya yang tidak hanya piawai memahat kayu, tetapi juga mampu mengubah lanskap dan spiritualitas menjadi bahasa ukir yang hidup.
Sumber: https://tatah.id/relief-balekambang-mantingan/

Posting Komentar