Membaca “Dari Bilik Pesantren” berisi Kumpulan Esai Ahmad Khadafi
Baru saja melangkah, kamu akan dipapak oleh 2 tulisan pengantar yang akan mengantarkan kamu pada 42 esai lainnya. Esai yang ringan dan tidak terlalu panjang ini berisi tulisan seorang santri yang merangkum hal-hal unik di dunia ke-pesantren-an. Sebelum bertransformasi menjadi sebuah buku, tulisan-tulisan ini merupakan catatan tentang ke-pesaantren-an atau lebih luasnya tentang Islam selama 30 hari tanpa jeda semenjak memasuki awal bulan Ramadhan. Hal ini dituturkan dalam pengatar penulis paling awal.
Buku yang bercover sandal jepit bertulsikan arab pegon “Punya Abah” ini sangat kental dengan dunia pesantren. Dan lagi-lagi cover yang diberikan mojok pada buku ini berasa begitu iconik. Seorang santri pasti akan langsung tahu mengapa harus sandal jepit. Ya kalau ingin tahu ya baca sendiri sajalah, hehe.
Hal yang paling tidak bisa dipisahkan antara santri dan pesantren adalah kiai. Kisah-kisah teladan seorang kiai dalam buku ini mengisi diantara esai-esai humor santri. Dan diawal esai penulis mengisahkan sosok inspiratif yang menurut sebagian ulama’ beliau merupakan waliyullah, ia Kiai As’ad Situbondo.
Kiai As’ad Situbondo dalam esai ini dikisahkan tengah menangani masalah ghosob di masjid yang kerap terjadi selepas jum’atan. Suatu hari, kiai As’ad mengunjungi salah satu dadengkot (baca:ketua) preman di kawasan tersebut bertujuan untuk meminta tolong untuk mengamankan sandal para jamaah yang salat. Karena karismatik Kiai As’ad, bahkan premanpun menghaturkan hormat pada beliau. Akhirnya mereka setuju.
Benar saja. Trik ini berhasil membuat sandal di masjid menjadi aman. Tidak ada lagi kasus ghosob. Bahkan sampai memasuki Jum’at keempat. Namun setelah itu ada yang aneh yang dirasakan si preman. Ia mengadu ke Kiai As’ad.
“Kiai, masa saya harus jaga sandal tukang becak, penjual kacang goreng, dan orang-orang remeh gini?. Harusnya orang-orang ini yang jaga sandal saya, bukan sebaliknya.” ....
Dari sini hidayah dari Allah datang tiba-tiba. Tiba-tiba datang. Untuk cerita selengkapnya kamu bisa baca sendiri di bukunya saja.
Dari sedikit cuplikan esai tersebut tergambar bagaimana posisi Kiai merupakan sosok guru sejati, disegani, dan menjadi problem solving di masyarakat. Hal yang hampir sama dengan cerita-cerita selanjutnya di buku ini. Pesan dan kesannya akan selalu terlihat khas pesantren.
Ahmad Khadafi atau yang memiliki nama asli Syafawi Ahmad Qadzafi ini mengakhiri tulisan-tulisan dalam buku ini dengan cerpen-cerpen ala santri. Menceritakan perjalanan seorang santri yang bernama Mahfud mencari jawaban yang cocok seputar keresahan-keresahan dalam hidupnya. Ia dihadapkan dengan dua orang yang berbeda pandangan berpikir. Satunya kolot satunya dianggap warga sekitar agak gendeng, katanya. Namanya Ustaz Nahi dan Gus Amar.
Mahfud yang selalu saja nggak bisa mencerna jawaban dan pendapat Ustaz Nahi yang jawabannya lebih sering ke “Hitam putih”, dan banyak berdalil, pada akhirnya selalu saja mlipir ke rumah Gus Amar yang katanya orang-orang dianggap gendeng. Walaupun begitu, Mafhud lebih klop dengan jawaban Gus Amar ini, karena Gus Amar selalu memberikan jawaban yang masuk akal dan dapat di cerna.
Ada 2 cerita yang telah menceritakan Gus Amar memecahkan permasalahan Mahfudz. Namun tidak dengan yang ketiga. Cerita yang ketiga ini memuncak di satu judul yang bahkan dibahas 3 bagian. Judulnya yaitu ... ah. Sudah lah. Baca sendiri saja di bukunya. Ini saya beritahu detail lengkap bukunya.
Judul : Dari Bilik Pesantren
Penulis : Ahmad Khadafi
Cetakan : Keempat, Juni 2021
Penerbit : Mojok
Tebal : xxvii + 254 halaman
ISBN : 978 – 602 – 5-695 – 3 – 3
Posting Komentar