Kumpulan Kisah Teladan; Lisanul Hal Karya KH Husein Muhammad
Table of Contents
Raja atau presiden memiliki peran penting bagi bangsanya. Suatu negara bisa dilihat baik buruknya melalui pemimpinnya. Walau suatu negara memiliki warga yang baik, namun kebijakan dari pemimpin yang teledor dan menyimpang, maka satu bangsa bisa terkena dampak buruknya.
Dikatakan KH. Husein Muhammad dalam pengantarnya mengutip Quotes yang ada di kitab Imam Al-Ghazali bahwa “Kebaikan rakyat adalah karena baiknya kepribadian pemimpinnya”. Baik buruknya masyarakat bukan tergantung sejahteranya mereka. Namun ditentukan perilaku dan kepribadian seorang pemimpin.
Berlandaskan hal tersebut, penulis buku “Merayakan Hari-hari Indah Bersama Nabi” ini membagikan kisah-kisah teladan untuk seorang pemimpin. Pemimpin rakyat, ataupun pemipin dalam ruang lingkup kecil.
Dalam buku lain, yang ditulis Dr. Jamal Ma’mur “Keteladanan KH Abdullah Zain Salam” menerangkan intisari suatu pendidikan yang terbentuk di dalam keluarga adalah “Keteladanan”. Keteladanan bak goresan pertama yang dituangkan dalam kertas putih. Goresan tersebut akan menjadi suatu tanda yang akan selalu membekas sepanjang hayat.
Hal yang sama, yang ditujukan KH. Husein Muhammad salam buku “Lisanul Hal”. Buku ini berisi Kisah-kisah para pemimpin-pemimpin Islam, para ilmuwan islam, maupun kisah-kisah lain yang dapat memberikan keteladanan dan membentuk kearifan bagi pembaca.
Buku Lisanul hal ini merupakan sebuah manifestasi dari sebauh pernyataan. Lisanul hal diambil dari satu pepatah populer yang berbunyi “Lisanul Hal Afshahu Min Lisanil Maqol” Bahasa perilaku (baca : keteladanan) lebih tajam dari pada bahasa lidah (baca : kata-kata). Artinya praktik saja akan lebih mengena ketimbang perintah saja yang tanpa dibarengi dengan tindakan keteladanan.
Buku Lisanul Hal ini memuat 73 kisah keteladanan yang patut untuk direfleksikan dalam diri pembaca. Penulis menuangkan kisah-kisah keteladanan dengan pesan-pesan tersirat di dalamnya. Para pembaca diajak kembali ke masa peradaban Islam masuk di Arab dibawa Nabi Muhammad saw.
Nabi Muhammad yang ditugaskan sebagai “Liutammima Makarimal Akhlak” mencerminkan manusia dengan akhlak paling sempurna yang dapat dicontoh oleh umatnya. Nabi Muhammad dalam buku ini diceritakan sebagai pembuka kisah-kisah lainnya dengan begitu apik.
Penulis mampu menggambarkan seolah pembaca masuk didalam kehidupan masyarakat Arab dan melihat keteladanan Nabi secara langsung. Pembaca diajak menapaki satu-persatu kisah yang teruntai menjadi beberapa bagian.
Selesai dibagian awal-awal kisah tentang keteladanan Nabi Muhammad, disajikan kisah-kisah para sahabat Nabi Muhammad yang juga penuh kearifan, mencontoh Nabi Muhammad saw. Bagaimana Umar bin Khattab menjadi khalifah (baca : pengganti nabi) keberatan dengan gelar tersebut. ia lebih memilih kata “Amir Al-Mukminin”. Amir memiliki makna orang yang diperintah.
Umar mendaku dirinya sebagai pelayan. Bukan orang yang dilayani. Bahkan dalam satu kisah dalam buku ini diceritakan Umar yang sedang melakukan “blusukan” dan mendapati salah satu rakyatnya kelaparan. Sehingga Umar membantu memberikan makanan, dimasakkan dengan tangan Umar sendiri hingga menghidupkan api dan meniupnya sendirian.
Saat itu Umar sama sekali tidak dikenali oleh salah satu rakyatnya tersebut. Bahkan rakyat tersebut mengkritik Umar secara langsung di hadapannya, karena ketidak tahuannya. Namun sang “Amir Al-Mukminin” ini tidak memberitahukan identitasnya sama sekali dan tidak melawan perkataannya sama sekali. Hal inilah yang juga pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dahulu. Dan kali ini Umar meneladani akhlak Beliau.
Pada bagian – bagian ini kita dapat melihat bukti tentang keberhasilan pendidikan yang dilakukan Nabi Muhammad kepada para sahabatnya. Mereka menunjukkan perubahan sikap dan kepribadian 180° dari kepribadian mereka saat “jahiliyah”.
Kisah-kisah lain yang dibawakan KH Husein Muhammad selanjutnya tak kalah apik. Salah satunya kisah tentang khalifah pada mas dinasti Umayyah yang mana ia memilki nama yang sama dengan kakek buyutnya, ia adalah Umar bin Abdul Aziz merupakan keturunan Umar bin khattab.
Umar bin Abdul Aziz memiliki jiwa kepemimpinan seperti kakek buyutnya. Dikisahkan dalam buku ini bahwa umar bin abdul aziz tidak memperbolehkan istrinya sama sekali untuk mengambil uang negara. Bahkan perhiasan yang dimilikinya diserahkan ke baitul mal. Bahkan suatu hari ketika keluarganya kekurangan. Umar bin abdul aziz dibujuk istrinya untuk mengambil uang negara. Namun Umar menolak. Mereka memilih untuk hidup miskin walau Umar adalah pemimpin dinasti besar.
Umar bin Abdul aziz juga mewarisi sikap buyutnya yang menolak dipanggil khalifah. Umar lebih memilih sebutan “amir”. Bahkah pemimpin ke8 dinasti Umayyah ini tak segan-segan memecat pejabat yang menyimpang dari tugasnya.
Tak hanya itu. Masih banyak sekali kisah-kisah inspiratif yang dapat dijadikan teladan bagi para pembaca. Entah itu seorang pemimpin negara, seorang pemimpin rumah tangga, maupun pempin bagi diri sendiri. Semuanya cocok untuk membaca buku ini awal hingga akhir.
Hanya saja dalam buku ini kisah-kisah yang dituangkan tidak memiliki sub tema yang jelas. Semua kisah disajikan secara acak. Sehingga bagi para pembaca perlu memetik intisari kisah dan dapat mengaitkan kesamaan pesan antar kisah yang tersaji.
Judul: Lisanul Hal; Kisah-kisah Teladan dan KearifanPenulis: KH. Husein MuhammadCetakan: Pertama, Maret 2020Penerbit: QafISBN : 978-602-5547-75-1
Posting Komentar