Sekolah Tanpa Jurusan Bukan Sekolah Tanpa Tujuan
Judul: Sekolah Tanpa Jurusan
Penulis: Gernatatiti
Penerbit: Buku Mojok
Ketebalan: 170 halaman
Tahun Terbit: 2022
Bagi saya, buku-buku “Mojok” memiliki kualitas jempol, baik segi isi maupun hasil cetakannya. Karena itu, sering saya scrool halaman bukumojok.com untuk mencari buku-buku hangat cetakan komunitas Mojok ini. Jika kurang banyak, saya lari ke mojokstore.com untuk cari buku-buku koleksi Toko Mojok, yang –menurut saya – merupakan buku-buku yang recomended untuk dikonsumsi. Selain hanya dibaca, buku-buku pilihan ini dapat melahirkan pancingan-pancingan untuk berpikir kritis dan dinamis, semacam pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab diri sendiri atau lingkungan sekitar.
beberapa bulan lalu sebelum tulisan ini terbit, hasil scrool di web bukumojok.com saya bertemu dengan sebuah buku yang membuat saya penasaran. Terutama tentang desain sampulnya yang ciamik, selain judulnya yang membuat otak menerka-nerka. Rilisnya buku ini juga bertepatan dengan isu kurikulum meredeka disekolah-sekolah swasta. Kok swasta ?, karena sekolah negeri telah lebih dulu diberikan pelatihan persiapan kurikulum ini. Sesuai dengan ringkasan gambaran saya dari blurb, review, dan sinopsis buku yang tersebar, maka akhirnya saya cekout buku ini. Judulnya “Sekolah Tanpa Jurusan”.
Buku setebal 170an halaman ini memuat jurnal harian atas aktifitas yang terjadi di sebuah sekolah yang tidak biasa, SALAM atau singkatan dari Sanggar Anak Alam. Tulisan-tulisan ini ditulis oleh salah seorang fasilitatornya, seorang ibu-ibu yang sebelumnya merupakan walimurid SALAM dan akhirnya direkrut untuk mendirikan SALAM pada jenjang SMA.
Tulisan dalam buku yang disajikan ringan ini, saya kira cukup untuk menggambarkan secara utuh dan padat tentang SMA SALAM. Tiap bagian tulisan dibeda-bedakan menjadi suatu susunan semacam RPP yang telah diskusikan lalu dijabarkan. Tiap catatan juga dibuat runtut mulai dari BAB 1 yang menjelaskan tentang perencanaan. BAB 2 tetang perjalanan belajar, BAB 3 Refleksi.
BAB 1, Perencanaan, menjelaskan tentang perencanaan kurikulum yang akan ditempuh siswa, persiapan kelas, ataupun persiapan penulis sebagai fasilitator baru. Perintisan SMA SALAM serta proses persiapan dan penggodokan yang menyelimuti didalamnya tampak tercatat rapi dalam BAB ini. Gernatatiti, penulis buku ini yang merupakan fasilitator SMA salam menceritakan betapa dirinya beserta kawan-kawan failitator merancang sekolah sedemikian rupa sesuai dengan karakter dan ciri khas SALAM.
BAB 2, merupakan gambaran penuh bagaimana pendidikan di SMA SALAM berjalan. Kegiatan-kegiatan yang anti mainstream, yang berbeda dengan sekolahan-skeolahan lain digambarkan dan dijelaskan melalui kegiatan belajar anak SALAM yang berorientasi praktek lapangan, bukan hanya sekedar teori. Sebagai contoh kegiatan SALAM tentang Menulis yang secara lugas dikemas dalam catatan yang bertajuk “Demam Literasi”. Anak-anak salam sedari dini sudah dilatih untuk menghasilkan karya yang outputnya bahkan dibukukan. Sehingga saat jenjang SMA, mereka terlatih untuk berkarya melalui tulisan bebas, catatan, dan reportase.
Lebih dari sekedar menulis, minat anak-anak SALAM diasah dan ditekuni sesuai KD, indikator yang mereka buat sendiri diawal tahun pembelajaran. Hasil yang mereka dapat dipresentasikan dan didiskusikan tiap minggu bersama teman-temannya satu kelas. Selain kelas mingguan, juga ada “Selapan hari” atau kurang lebih satu bulan yang bertepatan pada senin legi, anak-anak SALAM menggelar pasar Senin Legi, disini mereka akan menggelar lapak, seperti halnya pameran dan jualan sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Kemampuan sosial anak-anak terasah melalui kegiatan ini, disamping juga kemampuan analisis untuk belajar menjalakan roda perekonomian. Siswa siswi SALAM juga akan mereport kegiatan-kegiatan tersebut, lalu ditulis. Dari beberapa kegiatan rutin tersebut lebih jauh lagi hasil akhir suvei atau penelitian yang anak-anak SALAM lakukan itu akan dipresentasikan pada jadwal “Bulan Presentasi” dihadapan tamu undangan maupun walimurid SALAM.
Saya kira, SALAM memberikan sebuah refleksi untuk pribadi, maupun untuk pendidikan kita selama ini.
Rampung perjalanan belajar pada BAB 2, maka dilanjutkan “Refleksi” pada BAB 3. Bulan Presentasi menjadi bagian penting dalam “refleksi” SALAM dengan skala besar. Adanya pertunjukan-pertunjukan, pameran, serta Presentasi yang dibawakan anak-anak hingga fasilitator, membuat SALAM berada dalam keriuhan bertukar pengalaman. Kegiatan tersebut pun akan diliput oleh tim reportase yang beranggotakan anak-anak SALAM juga. Keasyikan kegiatan-kegiatan SALAM membuat mereka lupa dan tidak betah “libur” sekolah.
Kegiatan akhir studi di SALAM juga sama seperti sekolah-sekolah lain, penyusunan dan pembagian raport hasil belajar. Bedanya, raport di sekolah ini disusun secara naratif. Ditulis dengan cermat sesuai perkembangan siswa. Jika sekolah-sekolah lain menggunakan angka-angka untuk mengetahui nilai dan capaian anak, di sekolah ini cara mengetahui capaian anak yaitu dengan membaca semacam “artikel”, mungkin seperti itu gambarnya. Yang lebih menarik lagi, atas usulan failitator senior, penyusuunan raport SMA SALAM melibatkan siswa. Jadi, mereka membuat penilaian atas dirinya sendiri tentang tingkat ketercapaian hasil belajarnya selama satu tahun. Patokannya sesuai dengan indikator dan target yang mereka susun diawal tahun ajaran. Singkatnya, penulis diakhir catatan berkomentar tenang penyusunan raport sendiri “Tentu saja, hal ini akan membuat ‘membaca rapor’ menjadi kegiatan yang tidak lagi mengasikkan bagi mereka. Namun, bukankan ‘menyusun rapor sendiri’ itu jauh lebih mendewasakan ?”.
Disamping ke-anti mainstream-an SALAM dibanding dengan sekolah lain, sekolah yang berdomisili di Nitiprayan, Yogyakarta ini juga tercatat diantara 10 sekolah terunik didunia, versi detik.com.
Selamat membaca. Salam Literasi

Posting Komentar