Dakwah Aswaja An-Nahdliyah Syaikh Ahmad Mutamakkin karya Dr. Jamal Ma’mur Asmani
Judul : Dakwah Aswaja An-Nahdliyah Syaikh Ahmad Mutamakkin; Biografi, Ajaran, Pengaruh, dan Aktualisasinya di Tengah Perang Ideologi
Penulis : Dr. Jamal Ma’mur Asmani, MA
Cetakan : Agustus 2018
Penerbit : CV. Global Press
Tebal : xxxviii + 326 ha
ISBN : 978-602-5653-21-6
Aswaja (Ahlussunnah wal Jama’ah) merupakan salah satu aliran thelologi yang merambah luas di Indonesia. Aliran ini dibawa para mubaligh ke Indonesia, khsusunya Jawa dengan tanpa suatu kekerasan. Menilik pada buku “Njawani” karya Reka Sakti bahwa masyarakat jawa memiliki karakter yang terbuka dengan budaya-budaya baru. Mereka menyambut hangat para pendatang, karena “habitus” mereka yang seperti itu. Hal ini juga sama ketika budaya/agama Hindu Buda masuk menggantikan ajaran nenek moyang jawa, animisme-dinamisme.
Walisongo dan para mubaligh lain penyebar Islam di Jawa, membawa ajaran islam dengan pengakulturasian dengan budaya setempat yang diminati dan yang “lumrah” dilakukan oleh warga jawa. Sebagai contoh pertunjukan budaya wayang kulit, mendoakan orang yang sudah meninggal, kenduren, dll. Budaya dan tradisi tersebut diakulturasikan, ditransformasikan dengan ajaran Islam. Dan menjadi budaya-budaya seperti, tayub (berasal dari kata Toyyib), tahlilan, selamatan, dll. Dakwah semacam ini, pun dilakukan oleh Syekh Mutamakkin.
Dakwah yang dilakukan sykeh Mutamakkin dalam masyarakat sempat menuai kontroversi. Pagelaran wayang dengan tema dewa ruci dan bima, menjadi sasaran kritik oleh pihak-pihak yang bernaung di bawah politik kekuasaan. Bahkan syekh Mutamakkin pernah diadili dan akan dijatuhi hukuman, tetapi karena kesabarannya dan keyakinan akan kekuasaan Allah, Syekh Mutamakkin tidak membantah tuduhan-tuduhan yang dilontarkan padanya. Hingga, pada akhirnya syekh Mutamakkin terbebas, akhirnya barulah makna-makna simbolik yang beliau ajarkan diterangkan dan didakwahkan pada masyarakat. Dalam buku “Dakwah Aswaja An-Nahdliyyah Syekh Ahmad Mutamakkin; karya Dr. Jamal Ma’mur Asmani” inilah perjalanan Sykeh Mutakakkin dikisahkan, dikaji, dan ditelaah mendalam dalam kajian ke-Aswaja-an.
Menurut beberapa literatur, Syekh Mutamakkin merupakan keturunan bangsawan, yaitu masih keturunan dari raden patah (Raja Demak). Syekh Mutamakkin yang bernama asli Sumohadiwijaya sebelum menetap di Kajen, beliau melanglang buana ke berbagai tempat. Yang mana sebelumnya, beliau diberikan pilihan untuk tetap tinggal dikeraton atau keluar dari sana. Akhirnya beliau memutuskan untuk keluar dari kehidupan keraton dan memilih untuk menuntut ilmu ke negri sebrang. Hingga setibanya di Nusantara, beliau masih tetap meneruskan pengembaraannya menebarkan Agama Islam di bagian wilayah-wilayah Jawa. Dalam buku ini, diambil dari karya sebelumnya milik HM Imam Sanusi menjelaskan bahwa perjalanan dakwah Syekh Mutamakkin bisa dilacak, pertama yaitu berada di Cebolek Tuban, dengan ditandai beberapa peninggalan seperti klebut, masjid, dll. Lalu dilajutkan ke Kalipang, Sarang, Rembang dengan peninggalan sebuah masjid. Lalu beliau melanjutkan ke desa Cebolek lalu menetap di Kajen, Margoyoso, Pati.
Dalam buku ini, Dr. Jamal Ma’mur Asmani selain membeberkan makna dan filosofi tiap benda peninggalan Syekh Mutamakkin, beliau juga menjelaskan peninggalan Syekh Mutamakkin dalam bentuk kelimuannya. Ajaran, keturunan, dan Nilai-nilai pendidikan yang diajarkan oleh dzurriyah (keturunan) syekh mutamakkin juga tak luput dari pembahasan ini. Pembahasan-pembahasan ini akan menjadi penguat pendapat bahwa Ajaran Syekh Mutamakkin menganut faham Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) , An-Nahdliyah (karena lebih condong pada ajaran ulama’-ulama’ NU).
Pada akhirnya, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk menjadi teman membaca, dimanapun. Oleh siapapun. Buku ini takhanya mengandung sejarah, tetapi juga memuat ajaran, pengaruh, serta Aktualisasai dari ajaran Sykeh Mutamakkin ditengah masyarakat bahkan lintas generasi
Resensator : M. Salafudin a.

Posting Komentar